
Kamu tahu , bertahun tahun saya mengharapkan anak dari perkawinan saya. Tak henti saya berdoa kepada Allah agar diberi amanah anak manusia untuk kami didik. Upaya berobat kesana kemari sebagai ikhtiar manusia juga kami lakukan. Akhirnya penantian berakhir juga. Istri saya hamil. Satu yang kami harap malah yang lahir anak kembar. Betapa bahagiannya hidup ketika itu. Terasa lengkaplah kebahagian kami. Doa dan ikhtiar bersua dengan kenyataan. Ketika anak lahir, tumbuh dengan sehat, cerdas. Setiap pertumbuhannya kami tatap dengan ceria . Apalagi yang didambakan oleh setiap orang tua bila bukan anak yang sehat dan cerdas. Itu ada pada anak kami , yang kami cinta dengan segenap jiwa dan raga. Demikian kata teman saya ketika kami bersua dalam satu kesempatan pesta perkawinan sahabat. Tapi , apa yang terjadi setelah itu? Anak yang duluan lahir, dalam usia 12 tahun meninggal karena terkena demam berdarah. Setahun setelah itu anak kedua yang hanya berjarak usia 5 menit dengan kakaknya juga meninggal karena kanker darah.
Teman itu terdiam sebentar seakan menahan gemuruh hatinya. Kemudian dia melanjutkan. Dua tahun setelah kedua anak saya meninggal, istri yang saya cintai juga meninggal karena radang usus. Setelah istri saya meninggal, kios tempat saya berdagang digusur oleh PEMDA untuk dibuat Mall modern. Sayapun kehilangan tempat berniaga. Mall selesai dibangun, saya tak mampu menebus kios itu karena harganya terlalu mahal untuk saya jangkau. Sayapun terpaksa berdagang di kaki lima. Sementara Hutang bank tak mampu saya bayar maka rumahpun disita oleh Bank. Akibatnya tahulah kamu., Kata teman itu. Apa yang terjadi dengan saya ? Buah hati saya diambil oleh Allah. Istri yang saya cintai juga diambil oleh Allah. Lahan mencari nafkah juga diambil oleh Allah. Rumah untuk bernaung juga diambil oleh Allah. Semua yang tadi sebagai pelengkap kebahagiaan dan hiasan bagi saya, bahkan sesuatu yang sangat saya cintai diatas segalanya, akhirnya sirna begitu saja.
Demikian sansai yang datang kepada saya,katanya, ketika orang terdekat yang saya cintai siang dan malam itu pergi meniggalkan saya dalam kesendirian, terasa sebagian jiwa saya juga hilang. Namun apa yang menimpa saya tak lain karena Allah mencintai saya, katanya dengan tersenyum. Saya terkejut dengan sikapnya itu. Mengapa ? Ingatkah kamu kisah Nabi Ibrahim yang begitu cinta kepada putranya Ismail, namun Allah inginkan anak itu disembelih. Ibrahim patuh, juga istrinya. Ini ujian agama tauhid bahwa kecintaan kepada Allah haruslah tak bertepi. Apapun yang membuat cinta kita bertaburan dimuka bumi ini tak lain hanyalah permainan Allah untuk menguji keimanan kita, untuk menguji kecintaan kita kepada Allah. Anak ,istri, harta boleh hilang namun bila Allah hilang dalam diri kita maka habislah kita. Kata teman ini. BIla Allah cinta kepada kita maka kecintaan kita kepada Allah pun tak boleh bersyarat. Ingatlah Firman Allah . “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Al-Munafiqun: 9)
Bahwa begitu banyak orang siap untuk berkorban namun korban itu sesuatu yang terukur. Kadang diukur dalam bentuk uang. Atau bersabar dari kehendak amarah dan himpitan ekonomi. Ada juga bisa berzikir ribuan kali sampai berbuih air liur dilidah. Tapi tak banyak orang siap ketika sesuatu yang sangat dicintainya, yang sangat dia inginkan menjadi hiasanya kemudian diambil Allah , tak banyak yang siap..Puncak zikir adalah ketika kita ikhlas melepas sesuatu yang pada waktu bersamaan kita sangat menginginkannya. Bilah datang saatnya Allah meminta maka kehendak Allah yang diutamakan. Tanpa sedikitpun berprasangka buruk kepada Allah. CInta Allah yang harus dijemput. Allah lebih tahu bagaimana cara mencintai hambanya. Bagaimana memperlakukan hamba yang dicintainya. Kadang terasa pahit namun sesungguhnya manis disisi Allah. Rahasia Allah teramat luas untuk kita pahami dengan akal yang terbatas ini.
Benarlah…seharusnya kecintaan kita kepada apapun dibumi ini, apakah itu anak, istri, harta, jabatan tak lain hanyalah bagian kita berzikir kepada Allah. Kita mencintai mereka karena kita mencintai Allah. Janganlah sampai kecintaan kita kepada mereka membuat kita lalai kepada Allah. Terlalu berat cobaan yang harus kita emban bila suatu saat Allah berkehendak untuk mengambilnya. Ya cintalah didunia ini, sekedarnya. Jangan berlebihan. Yang berlebihan itu hanya hak Allah untuk dicintai. Marilah kita siap berkorban melepaskan apapun didunia ini hanya untuk mencintai Allah. Marilah. Kata teman itu mengakhir ceritanya. Dia mendapatkan hikmah dari peristiwa hidup yang menimpanya dan saya mendapatkan hikmah dari perjalanan hidupnya.
Saya termenung. Ya mencintai Allah itu tidaklah mudah. Ingat ketila Shahabat Sa'ad bin Abi Waqqash mengungkapkan: "Aku pernah bertanya,"Wahai rasulullah! Siapakah orang yang paling berat cobaannya?Beliau menjawab:"Para nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian yang sesudah mereka secara berturut-turut menurut tingkat keshalihannya. Seseorang akan diberi ujian sesuai dengan kadar agamanya. Bila ia kuat, akan ditambah cobaan baginya. Kalau ia lemah dalam agamanya, akan diringankan cobaan baginya. Seorang mukmin akan tetap diberi cobaan, sampai ia berjalan dimuka bumi ini tanpa dosa sedikitpun.(HR Bukhary). Ya sumber dosa itu adalah mencintai dunia berlebihan yang sampai melupakan Allah. Semua kita harus melewati ujian untuk membuktikan bahwa kita memang pantas disebut sebagai pencinta Allah. Dalam hati saya berdoa “‘Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa’.” (Al-Furqan: 74)

0 comments:
Post a Comment