Sepuluh tahun China dalam kegelapan ketika revolusi kebudayaan. Kalau ada kekejaman kemanusiaan yang tak lekang dari catatan gelap abad 20 maka itu adalah revolusi kebudayaan. Sepuluh tahun orang dipaksa bekerja layaknya binatang. Tak ada upah berupa uang kecuali kupon untuk mengganjal perut dari sepotong roti tawar. Tak ada rumah layak sanitasi. Tak ada kampus mentereng dengan mahasiswa modis. Tak ad diskusi pintar tentang reform. Singkatnya kala itu manusia tak lagi pantas disebut sebagai manusia. Cina lama harus menjadi abu untuk lahirnya China baru.Demikian petuah kramat dan menakutkan dari Bapak Mao.
Begitu kejamkah Mao hingga namanya harus dihapus dari pelajaran sejarah anak sekolah di China sekarang. ? Tidak, Mao tetaplah sebagai bapak China. Orang banyak segera melupakan masa lalu yang gelap karena pada kenyataanya mereka juga tahu bahwa Bapak Mao tidak jauh beda dengan mereka. Sama sama susah. Ketika Mao meninggal , tak ada harta berupa rekening miliaran dollar di Bank bank swiss. Tak ada istana berjenjang atas namanya pribadi.Tak ada imperium business bagi anak anaknya. Kesederhanaan Mao membuat rakyat China bisa melupakah kekerasan revolusi kebudayaan. China mendapatkan mentor kepribadian dari teladan sang pemimpin untuk bangkit menuju lompatan jauh kedepan.
Nabi Muhammad, ketika diminta untuk memilih apa yang dia mau akan diperkenankan Allah. Tapi Rasul lebih memilih menjadi pemimpin untuk orang miskin. Kekasih Allah ini , yang namanya bersanding di pintu sorga , tak mampu membela putri kesayangannya yang harus membungkus dirinya dengan selimut. Karena bajunya dijual oleh suaminya ( Ali RA) untuk makan. Terbiasa menjahit sendiri pakaiannya yang robek. Mengganjal perutnya dengan batu untuk menahan lapar. Ketika wafat tak ada istana megah yang diwariskan. Kecuali rumah kelas RSS dan hutang yang harus dibayar oleh keluarganya. Begitu kesederhanaan membalut raganya. Namun dari kesederhanaan inilah bangkit kekuatan baru dari komunitas baru yang bertumpu pada rahmat bagi alam semesta.
Kekuatan sejati itu lahir dari jiwa manusia. Raga manusiaadalah sisi terlemah manusia. Ketika harta , pangkat, menjadi segala galanya maka pada waktu itulah manusia mencapai titik terendah statusnya sebagai mahkluk. Manusia kelas ini sangat renta dengan cuaca, fitnah, kesedihan, kesenangan. Renta oleh waktu. Renta akan cinta dan mencintai, kianat mengkianati. Cerai menceraikan. Marah memarahi. Keseharian mereka menjadi komunitas yang menyedihkan. Tak ada sesungguhnya kehidupan kecuali bergerak meniti hari lewat kemasan yang mudah dimakan waktu. Manusia ini mengetahui halal tapi tak jelas soal haram. Mereka paham tentang haram namun sulit menerima yang halal. Bahkan label halal diharuskan namun label haram jangan ada pada setiap kemasan makanan.
Komunitas ini mengejar status dan menjadi kelas eksklusif. Maka itu semua harus tampil dalam bentuk simbol kemewahan. Semua itu membuat mereka kemaruk dengan harta. Sumber hartapun terbuka lebar ketika mereka memegang kekuasaan. Yang anggota DPR, mencari cari kesalahan eksekutif untuk berbagi. Yang aparat hukum memeras pejabat korup, bandar narkoba untuk berbagi. Yang birokrat ngakali anggaran untuk orang miskin namun sebetulnya satu cara legal untuk memberi sedikit berbagi banyak diantara mereka. Itulah yang dikawatirkan oleh Nabi ketika ajal menjemputnya sambil berbisik kepada menantunya “Jaga orang miskin”.
Kerja besar manusia sesungguhnya ada pada diri manusia itu sendiri.Kerja besar itu berupa pengendalian diri untuk tidak kemaruk harta. Untuk tidak silau dunia. Untuk tidak memuja dunia. Ternyata pendidikan terbaik itu bukanlah mendekap harta dan jabatan melainkan menjadikan harta dan jabatan itu sebagai ladang ibadah untuk rahmat bagi alam semesta. Karena pada akhirnya semua yang melekat pada raga itu akan sia sia ketika jasad dibawa kelubang kubur. Yang abadi itu ternyata adalah jiwa itu sendiri. Dikenang oleh yang masih hidup dan disambut oleh Allah dengan tangan terbuka...
Begitu kejamkah Mao hingga namanya harus dihapus dari pelajaran sejarah anak sekolah di China sekarang. ? Tidak, Mao tetaplah sebagai bapak China. Orang banyak segera melupakan masa lalu yang gelap karena pada kenyataanya mereka juga tahu bahwa Bapak Mao tidak jauh beda dengan mereka. Sama sama susah. Ketika Mao meninggal , tak ada harta berupa rekening miliaran dollar di Bank bank swiss. Tak ada istana berjenjang atas namanya pribadi.Tak ada imperium business bagi anak anaknya. Kesederhanaan Mao membuat rakyat China bisa melupakah kekerasan revolusi kebudayaan. China mendapatkan mentor kepribadian dari teladan sang pemimpin untuk bangkit menuju lompatan jauh kedepan.
Nabi Muhammad, ketika diminta untuk memilih apa yang dia mau akan diperkenankan Allah. Tapi Rasul lebih memilih menjadi pemimpin untuk orang miskin. Kekasih Allah ini , yang namanya bersanding di pintu sorga , tak mampu membela putri kesayangannya yang harus membungkus dirinya dengan selimut. Karena bajunya dijual oleh suaminya ( Ali RA) untuk makan. Terbiasa menjahit sendiri pakaiannya yang robek. Mengganjal perutnya dengan batu untuk menahan lapar. Ketika wafat tak ada istana megah yang diwariskan. Kecuali rumah kelas RSS dan hutang yang harus dibayar oleh keluarganya. Begitu kesederhanaan membalut raganya. Namun dari kesederhanaan inilah bangkit kekuatan baru dari komunitas baru yang bertumpu pada rahmat bagi alam semesta.
Kekuatan sejati itu lahir dari jiwa manusia. Raga manusiaadalah sisi terlemah manusia. Ketika harta , pangkat, menjadi segala galanya maka pada waktu itulah manusia mencapai titik terendah statusnya sebagai mahkluk. Manusia kelas ini sangat renta dengan cuaca, fitnah, kesedihan, kesenangan. Renta oleh waktu. Renta akan cinta dan mencintai, kianat mengkianati. Cerai menceraikan. Marah memarahi. Keseharian mereka menjadi komunitas yang menyedihkan. Tak ada sesungguhnya kehidupan kecuali bergerak meniti hari lewat kemasan yang mudah dimakan waktu. Manusia ini mengetahui halal tapi tak jelas soal haram. Mereka paham tentang haram namun sulit menerima yang halal. Bahkan label halal diharuskan namun label haram jangan ada pada setiap kemasan makanan.
Komunitas ini mengejar status dan menjadi kelas eksklusif. Maka itu semua harus tampil dalam bentuk simbol kemewahan. Semua itu membuat mereka kemaruk dengan harta. Sumber hartapun terbuka lebar ketika mereka memegang kekuasaan. Yang anggota DPR, mencari cari kesalahan eksekutif untuk berbagi. Yang aparat hukum memeras pejabat korup, bandar narkoba untuk berbagi. Yang birokrat ngakali anggaran untuk orang miskin namun sebetulnya satu cara legal untuk memberi sedikit berbagi banyak diantara mereka. Itulah yang dikawatirkan oleh Nabi ketika ajal menjemputnya sambil berbisik kepada menantunya “Jaga orang miskin”.
Kerja besar manusia sesungguhnya ada pada diri manusia itu sendiri.Kerja besar itu berupa pengendalian diri untuk tidak kemaruk harta. Untuk tidak silau dunia. Untuk tidak memuja dunia. Ternyata pendidikan terbaik itu bukanlah mendekap harta dan jabatan melainkan menjadikan harta dan jabatan itu sebagai ladang ibadah untuk rahmat bagi alam semesta. Karena pada akhirnya semua yang melekat pada raga itu akan sia sia ketika jasad dibawa kelubang kubur. Yang abadi itu ternyata adalah jiwa itu sendiri. Dikenang oleh yang masih hidup dan disambut oleh Allah dengan tangan terbuka...
